BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Al Qur’an telah menerangkan dengan jelas bahwa tak ada nabi lain setelah
nabi Muhammad SAW. Kendati demikian, umat beragama tidak bisa menghindari
fenomena nabi palsu yang terus bermunculan sejak Rasulullah wafat.
Mulai dari semenanjung Arab hingga ke ujung Asia, tidak berhenti
orang-orang yang mengaku mendapat hidayah atau mukjizat lalu menyebut dirinya
sebagai nabi.
Di Indonesia, di abad millenium ini, tercatat ada sejumlah orang yang
mengklaim dirinya sebagai nabi penerus nabi Muhammad SAW. Untuk meyakinkan
masyarakat tak jarang nabi palsu ini menggunakan cara aneh hingga maksiat. Mulai dari menyuruh umatnya beribadah tak lazim,
menyetor uang sampai melakukan ritual yang berujung pemerkosaan.
Dan salah satu fenomena agama di indonesia yang menrik untuk dikaji adalah
agama baru yang diketuai oleh lia eden.
B.
Rumusan masalah
1.
Bagaimana sejarah airan Lia Eden?
2.
Bagaimana ajaran Aliran Lia Eden?
C.
Tujuan
1.
Untuk memenuhi persyaratan mata kuliah Fenomenologi Agama.
2.
Untuk mengetahui mengenai sejarah aliran Lia Eden.
3.
Untuk mengetahui ajaran Lia Eden.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
SEJARAH ALIRAN LIA EDEN
Komunitas Eden atau juga disebut
Tahta Suci Kerajaan Tuhan Eden berawal dari pengalaman spiritual Paduka Bunda
Lia Eden, sebutan untuk sosok wanita yang pada waktu itu biasa disebut dengan
nama Lia Aminuddin.
Berawal dari penyingkapan
kegaiban yang terjadi pada 27 Oktober 1995, Lia Aminuddin yang juga Bunda Lia
mengalami pembimbingan sesosok gaib malaikat yang bernama Habib Al Huda, yang kemudian
mengenalkan diri sebagai Malaikat Jibril pada 28 Juli 1997. Sosok gaib
malaikat inilah yang membimbing Bunda Lia, berkata-kata pada hati nuraninya dan
membimbingkan pengajaran ketuhanan kepadanya. Sejak saat itu, Bunda Lia menjadi
medium Malaikat Jibril yang menyampaikan pesan melalui dirinya, baik melalui
lisannya maupun berkata-kata melalui hati nurani yang kemudian harus
dituliskannya.
Di dalam pembimbingan Malaikat
Jibril, Bunda Lia mengalami proses pensucian dan pembimbingan spiritual. Pada
saat bersamaan, Bunda Lia diperintahkan untuk menyampaikan pesan-pesan Malaikat
Jibril kepada masyarakat. Setiap kali menerima pesan-pesan Malaikat Jibril,
pesan-pesan itu dituliskannya dan kemudian disebarkan kepada masyarakat.
Pesan-pesan itu kemudian dikirimkan kepada pemimpin lembaga-lembaga resmi
kenegaraan, lembaga agama, dan tokoh-tokoh nasional dalam bentuk dokumen resmi
dengan nama dan alamat penerima yang jelas.
Pada awalnya (1997), Malaikat Jibril memberikan nama “Salamullah” (artinya: keselamatan dari Allah) untuk komunitas para muridnya. Dalam proses perkembangannya, pada bulan Juni 2000 Malaikat Jibril memerintahkan kepada para muridnya untuk mendeklarasikan Salamullah sebagai agama baru, setelah pesan-pesan dan peringatan Malaikat Jibril diabaikan, bahkan para muridnya mendapat tentangan dari para ulama dan umat Islam. Salamullah disebutkan sebagai agama baru yang bersendikan pada perenialisme, keyakinan bahwa pada hakikatnya seluruh agama memiliki sumber yang sama, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
Pada awalnya (1997), Malaikat Jibril memberikan nama “Salamullah” (artinya: keselamatan dari Allah) untuk komunitas para muridnya. Dalam proses perkembangannya, pada bulan Juni 2000 Malaikat Jibril memerintahkan kepada para muridnya untuk mendeklarasikan Salamullah sebagai agama baru, setelah pesan-pesan dan peringatan Malaikat Jibril diabaikan, bahkan para muridnya mendapat tentangan dari para ulama dan umat Islam. Salamullah disebutkan sebagai agama baru yang bersendikan pada perenialisme, keyakinan bahwa pada hakikatnya seluruh agama memiliki sumber yang sama, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
Agama Salamullah memang
dideklarasikan dan sempat dicatat dalam sejarah, tapi tak pernah berkembang.
Agama baru Salamullah dinyatakan oleh Malaikat Jibril hanya untuk memisahkan
Jamaah Salamullah dari keterkaitannya secara formal dengan pemahaman Islam pada
umumnya, sebelum Malaikat Jibril menempatkan Eden sebagai institusi Surga dan
wahana perdamaian semua agama.
Usai deklarasi agama baru, proses
pengajaran Malaikat Jibril di Salamullah terus berkembang. Malaikat Jibril
kemudian mengajarkan spiritualitas tanpa agama, yang mendasarkan religiusitas
Kaum Eden pada tauhid (absolute monotheism), kesucian, ketundukan kepada Tuhan
yang terwujud dalam buah moralitas keseharian. Dimulai dengan perintah kepada
Bunda Lia Eden untuk melepaskan afiliasi pada agama tertentu dan keterikatan
pada syariat agama (pada tahun 2000), Malaikat Jibril memberikan pilihan untuk
memilih spiritualitas non-agama kepada para muridnya (pada tahun 2002), dan
kemudian menyatakan Eden sebagai institusi ketuhanan yang mandiri dan tak
memiliki afiliasi keagamaan dengan agama apapun (pada tahun 2005).
Sejak pengajaran perenialisme, Eden
diperkenalkan sebagai nama baru Salamullah. Dalam proses pergulirannya, nama
Eden dan spiritualitas perenial semakin mengkristal dan menggantikan nama
Salamullah yang memiliki afiliasi budaya dengan Islam. Pengkristalan itu
semakin mengental melalui berbagai jenjang pentahbisan Kerajaan Tuhan Eden yang
puncaknya adalah peresmian Kerajaan Tuhan Eden pada 5 Desember 2005. Sejak itu,
nama resmi institusi Eden adalah Tahta Suci Kerajaan Tuhan Eden dan para murid
Malaikat Jibril yang berada di dalamnya dikenal dengan sebutan Komunitas Eden.
Akhirnya
pada tahun 2005, Lia diseret ke meja pengadilan yang menghukumnya dengan
hukuman penjara 2 tahun. Meski sang pemimpin berada di dalam hotel prodeo, tak
dinyana kegiatan Komunitas Eden tetaplah berjalan seperti biasa. Bahkan menurut
salah satu pengikutnya, para jamaah justru tertuju ke penjara yang menjadi
tempat Lia Eden dihukum dan tetap menganggapnya sebagai penyampai wahyu dari
Malaikat Jibril.
B.
AJARAN ALIRAN LIA EDEN
Kaum ulama ribut karena dalam ajarannya Eden mengaku sebagai nabi yang
diutus. Ajaran ini mengklaim bahwa ajaran Islam dan Kristen telah jauh
melenceng dan dia diutus untuk memperkenalkan ajaran yang sesungguhnya.
Sekarang aliran ini telah dilarang beredar di Indonesia dengan alasan penistaan
agama.
Kelompok lain yang dinilai
MUI sebagai aliran sesat. Tak ada kegiatan ibadah khusus seperti shalat
sebagaimana umat Muslim lakukan. Mereka hanya berdoa dan selalu memanjatkan
puji-pujian kepada Tuhan setiap waktu. Bila Lia mendapatkan wahyu dari Malaikat
Jibril, maka semua jamaah diharuskan berkumpul dan mendengarkan wahyu yang
mereka sebut sebagai risalah. Lia lantas duduk di kursi kebesarannya dan
membimbing para pengikutnya dalam menerima wahyu yang telah didapatkannya.
Mereka juga menentang pengkotakkan umat melalui agama-agama. Bagi mereka, Tuhan
hanya satu. Sedangkan untuk kitab suci, Komunitas Eden mempelajari hampir
setiap kitab suci dari berbagai agama. Selain itu, mereka juga mempunyai
wahyu-wahyu yang diyakini diturunkan melalui Lia Eden dan kini mulai dibukukan
seperti halnya Al-Qur’an tempo dulu. Melalui Komunitas Eden, para jamaah ini
juga akan bertekad untuk menghapuskan semua agama yang ada di dunia. Sehingga
tidak ada lagi konflik antar agama atau bahkan pertikaian antar agama yang satu
dengan agama lainnya.
Adapun
balutan kain putih yang melekat di tubuh para jamaahnya, dinamakan sebagai
mori. Diakui para pengikutnya, pakaian tersebut digunakan sebagai peringatan
agar tidak berbuat dosa dan selalu putih bersih tanpa dosa. Para jamaahnya
sendiri memang tidak diperbolehkan melakukan dosa sekecil apa pun. Bila salah
satu dari mereka telah melakukan dosa, maka ganjaran yang harus diterima adalah
dikeluarkan dari komunitas, tak peduli lamanya waktu mereka bergabung. Bahkan
ada salah satu anak Lia yang harus dikeluarkan dari Komunitas Eden karena telah
melakukan dosa pada perbuatannya.
Para
jamaah Eden dikenal dengan sifat kemandirian yang mereka miliki. Mereka mengaku
tidak memiliki pegawai satu pun di rumah. Apapun pekerjaan di dalam rumah,
harus mereka kerjakan sendiri tanpa bantuan dari pihak luar. Seseorang yang
akan masuk ke dalam komunitas haruslah menjalani beberapa prosesi. Salah
satunya yang disebutkan kepada Realita adalah dengan proses penyucian
melalui api. Setiap calon anggota jamaah diharuskan melewati api dan dibakar.
Sebelumnya, mereka juga harus mengakui seluruh dosa yang pernah dilakukan di
masa lampau, baik dosa besar maupun dosa kecil. Barulah mereka melakukan proses
penyucian dengan cara dibakar. Bila tubuh terasa sakit dan terbakar, maka ada
dosa yang belum diakui oleh si calon anggota. Sebaliknya, bila mereka tidak
merasa kesakitan, maka mereka telah suci dan bersih layaknya bayi yang baru
lahir. Setelah melewati prosesi tersebut, mereka akan secara resmi menjadi
anggota jamaah Komunitas Eden. Meskipun sudah resmi menjadi seorang anggota
jamaah, tidak menutup kemungkinan si anggota itu dikeluarkan karena telah
melakukan dosa. Tak heran, ketika beberapa tahun silam, anggota jamaah Eden
mampu mencapai angka ratusan. Tapi, saat ini hanya sekitar 50 jamaah karena banyaknya
yang keluar ataupun dikeluarkan oleh Malaikat Jibril yang telah mereka yakini
sebelumnya.
Sekitar 14 orang
diantara 50 anggota, tinggal dalam satu rumah di Jalan Mahoni Nomor 30. Sisanya
tinggal di rumah masing-masing. Untuk masalah pembiayaan sendiri, dananya
sebagian besar berasal dari anggota-anggotanya yang telah bekerja. Ada semacam
kas yang menampung penghasilan para anggotanya tersebut. Dana itulah yang
digunakan untuk membiayai setiap kegiatan Komunitas Eden termasuk kebutuhan
sehari-hari anggota lainnya yang tidak bekerja. Entah sampai kapan Komunitas
Eden akan tetap bertahan. Namun, yang pasti setiap pengikut Komunitas Eden
percaya bahwa apa yang mereka yakini selama ini merupakan sesuatu yang
menunjukkan kebenaran dan akan membawa mereka ke surga bernama Eden, surga yang
dijanjikan oleh Tuhan sebelumnya.
Kitab Sucinya adalah Lembaran
AL-HIRA (gabungan dari isi kitab suci Taurat , Zabur, Injil, Al-Qur`an, Weda. Syahadatnya
: RABBUNALLAH Lia Aminuddin (awal dahulu) dan sekarang berubah nama menjadi :
LIA EDEN (Lia yang tinggal didalam surga Adn, yaitu setelah turun wahyu yang
menyuruh menceraikan suaminya Aminuddin dan benar-benar bercerai, kemudian LIA
menikah dengan MALAIKAT JIBRIL dan tinggal dalam surga Adn berkasih sayang dan
berhubungan seks dengan Malaikat Jibril itu, maka dia mengganti namanya dengan
LIA ADNIN atau Lia Eden (Lia yang tinggal di surga Adn) LIA EDEN (d/h LIA
AMINUDDIN, mengaku menerima wahyu dan setiap saat selalu siap seorang pencatat
wahyu di depan komputer. Begitu wahyu turun langsung dibaca oleh Lia dan
langsung pula dicatat oleh penulis wahyu (salah seorang sekretaris wahyunya
bernama Yuyus Yusuf A. dari Tasikmalaya, mahasiswa DO dari UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta), sehingga wahyu–wahyu tersebut sudah menumpuk di
rumahnya.- Muhammad Abdur Rahman : Imam Besar Agama Salamullah dan berpangkat
IMAM MAHDI Pokok-Pokok Ajarannnya Kala Tuhan takkan menyisakan harapan terhadap
bangsa Arab, dunia Islam harus berpaling ke negeri ini, menjadi makmum Nabi
Muhammad secara langsung. Niscaya kiblat di Mekah tak lagi berdaulat, karena
untuk apa lagi berhaji ke sana, kalau nabi Muhammad telah bangkit dan kerajaan
malaikat yang disebut surga itu bertahta di negeri ini
Sementara Tuhan sendiri pun
berkehendak membuat pemusatan kiblat semua agama di negeri Indonesia. Jakarta
akan menjadi pusat spiritual semua agama. Maria dan Yesus disebutkan termasuk
pendiri Salamullah, tapi keduanya kemudian menyerahkan daulat Salamullah
sepenuhnya kepada Abdul Rahman yang ditunjukkan Tuhan sebagai Imam Mahdi.
Lia adalah Maria yang diutus untuk
mendamaikan seluruh agama-agama, maka diapun dititahkan Tuhan agar tak beragama
lagi. Tapi berketuhanan. Bahkan didaulat dibandingkan denganku sebagai Ruhul
Kudus. Dia menjadi penyampai wahyu bagi seluruh agama-agama
Babi itu kini telah dihalalkan
Tuhan. Padahal babi yang sediakalanya termasuk binatang kutukan
Tuhanmengakibatkan Tuhan terpaksa meninjau kembali ketetapan-Nya mengharamkan
babi. Dipertimbangkan babi yang busuk itu dipertanggungkan sebagai olahan makanan
yang lebih baik daripada ular dan sebagainya itu. Babi yang diternakkan dapat
lebih terpelihara pertumbuhan dan perkembangbiakannya daripada menternakkan
ular
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Lia Eden adalah sebuah
aliran sesat yang diciptakan oleh Lia Aminuddin yang berkhayal mendapat wahyu
dari tuhan. Aliran ini sudah mendapat penganut tapi setelah tersebar dan
pemimpinya ditangkap sedikit semi sedikit pengikutnya meninggalkan aliran ini.
Banyak ajaran yang
diajarkan yang katanya didapatkan dari tuhan lewat jibril namun ajaranya
menggabungkan semua agama menjadi satu. Aliran ini menjadi kajian fenomenologi
agama karena sebagai fenomena dalam keberagaman yang diciptakan manusia untuk
mencapai kebahagiaan.
B.
Kritik dan Saran
Dengan
berakhirnya makalah ini, tentu masih terdapat beberapa kekurangan mungkin dari
pembahasan belum dapat dibahas secara terperinci. Oleh karena itu kami berharap
kritik dan sarannya yang dapat membangun. Semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi para pembaca.
DAFTAR PUSTAKA